Hujan sore ini, Kamis (29/11) dari balik jendela ruangan kantor saya. Musim penghujan kembali datang. Sebagian orang mungkin mengeluh, tapi saya sangat suka hujan.
I wanna go back to those simple days
When I woke up this morning, I found myself miss my brothers. Remembering about our childhood. You both playing a role. One of you role as Batman and another as Robin with costumes that you request to mother. But, why you didn’t invite me to play? Now I think, maybe I can play as a cat woman =)) lol. Hmmmmf (-_-”) I Miss u Both
Surat Cinta Termakan Rayap
Sore ini, ibu Hudajani Sidik cerita kepada saya tentang surat-surat cinta yang ia simpan selama 44 tahun lamanya. Sayang, hari ini harus dibakar karena sudah terkena rayap dan sebagian sudah tidak terbaca. Untungnya beberapa postcard yang bapak kirim saat studi di Belanda (saat menjalani hubungan jarak jauh ketika itu) masih bisa disimpan dalam beberapa album.
Bu, mungkin kisah ini yang belum sempat saya ceritakan di buku biografi bapak kemarin. Someday kalau saya diminta menulis lagi, boleh donk saya baca-baca postcardnya :p Semoga foto yang baru sempat saya upload ini, bisa jadi obat seusai ibu membakar surat-surat cinta itu
Bahagia itu…
Kado Ultah Pernikahan ke-43
Spesial buat Prof Sidik & Ibu Hudajani Sidik.. Kado Ulang Tahun Pernikahan ke-43. Bapak Ibu merupakan teladan. Saya banyak belajar tentang membangun cinta dan kesetiaan ^_^
Gedung Sate di Malam Hari
Bandung Tempo Sekarang
Lets go Dreamin’
“Rajutan Cinta” Buatan Mama
Ada anggapan bahwa merajut itu identik dengan orang-orang tua. Tapi sekarang banyak sekali anak muda dari anak-anak sampai wanita dewasa yang pintar merajut. Saya sendiri? Jujur, saya tidak bisa merajut. Jadi dalam kamus saya, merajut tetap identik dengan orang tua. Karena pada kenyataannya anak muda seperti saya masih kalah terampil dengan buah tangan mama saya sendiri.
Sebelum saya menjabarkan lebih dalam mengenai resolusi saya di tahun 2012 ini (yang hubungannya dengan rajut merajut), saya ingin sedikit bercerita mengenai asal-usul keterampilan merajut yang mama miliki.
Dari mana Mama Belajar Merajut? Ini yang selalu menjadi pertanyaan saya ketika mendapati mama di umurnya yang hampir 60 Tahun ini sangat terampil merajut. Padahal selama 32 tahun dalam hidupnya, ia menjadi wanita karir yang bekerja setiap hari di belakang meja, menjalankan aktivitasnya sesuai jam kantor, dan hanya mempunyai waktu di malam hari dan weekend bagi anak-anaknya. Lalu, sejak kapan mama bisa merajut? Saya keheranan sendiri. Karena sejak kecil saya tidak pernah melihat mama merajut.
Ditengah kekaguman saya, mama pernah bercerita. Ketika mama masih duduk di Bangku SMP, ibunya atau saya menyebutnya Mak gaek (dalam bahasa Padang; berarti Nenek), selalu menyodorkan sejumlah benang dan hakpen (jarum rajut) setiap mama pulang dari sekolah. Tanpa bisa menolak, mama langsung diperintahkan untuk merajut. Berbeda dengan kakak perempuan mama yang setiap pulang sekolah malah disodorkan peralatan dapur.
Tapi akhirnya saya paham, Ooo begitu rupanya mama memiliki keahlian merajut, tapi tidak untuk keahlian memasak. Makna yang saya dapat, bahwa nenek saya sejak dini telah membekali anak-anaknya dengan kemampuan yang berbeda.
Kemudian, saya juga berpikir. Kok terlambat sih mama menyadari kalau ia masih memiliki kemampuan untuk merajut? Hebatnya, 32 tahun bekerja sebagai wanita kantoran tidak membuat kemampuan mama hilang begitu saja. Baru pada tahun 2010 lalu, mama mulai berkreasi kembali dengan jari-jarinya. Memang, tidak ada kata terlambat yaa untuk memulai ini semua. Pernah saya mencoba untuk belajar, tapi saya menyerah. Tangan ini tak seterampil mama.
Behind The Scene: Juara Kompetisi Adukreasi Wartawan & Penulis Muda Kementerian Pertanian 2011
Berawal dari obrolan ngalor-ngidul sampe tengah malem (sambil lembur ngantor) pada bulan Oktober 2011, saya, Mas Purnomo Sidik, dan Hera Khaerani berencana untuk mengikuti sebuah lomba peliputan video yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian. Lombanya sendiri bertajuk, “Lomba Adukreasi Wartawan dan Penulis Muda Pertanian”. Tapi sebelum eksekusi, kami terlebih dahulu sudah membayang-bayangkan seandainya kami menjadi juara.
“Juara bertahan, selalu menang,” tegas mas Sidik dengan yakinnya.
Mas Sidik yang tahun lalu menjadi juara II pada kompetisi serupa sangat optimis bisa menjadi juara I untuk kompetisi video kali ini. Namun, saya sendiri ngga mau kalah dengan menunjukkan keyakinan saya untuk bisa menyingkirkan yang mas Sidik bilang juara bertahan. Saya sendiri sejak tahun 2010 lalu telah mengetahui adanya kompetisi ini. Hanya saja karena yang kuat hanya niat, tanpa eksekusi akhirnya saya ngga jadi ikut kompetisi tersebut. Tapi, tahun 2011 ini saya harus ikut serta.
“Baik lah, sampai ketemu nanti di Jakarta,” kata saya kepada mas Sidik sambil bersalaman menandakan ‘deal’. Kami yang duduknya bersebelahan di kantor, kemudian melanjutkan tugas lembur kami sambil memikirkan konsep video liputan yang akan masing-masing kami buat. Mas Sidik kali ini tidak akan sendiri. Ia menarik salah seorang teman kantor kami juga untuk bergabung, Hera Khaerani.
Dan, tema pertanian apa yang mereka angkat? adalah mengenai diversifikasi pangan. Betapa masyarakat Indonesia sudah sangat bergantung hidup dengan memakan nasi. Padahal sumber energi/karbohidrat sebenarnya tidak hanya ada pada nasi. Mas Sidik dan Hera berhasil mengangkat salah satu panganan yang bisa saja mengganti nasi, yaitu ubi. Mas Sidik sendiri akan mengambil tema besar mengenai Ubi Cilembu yang lokasi liputannya dia ambil di daerah Tanjungsari s/d Sumedang, Jawa Barat.
Potensi Pertanian di Pulau Belitung
Lalu bagaimana dengan saya? Saya sendiri pada awalnya tidak terbayang tema apa yang ingin saya angkat dalam peliputan video. Satu-satunya yang ada di pikiran saya adalah mengenai potensi pertanian di Pulau Belitung. Mengapa harus jauh sampai ke Belitung? Karena saya sudah sangat mengenal pulau ini. Sambil menyelam minum air, peribahasa yang bisa menggambarkannya. Sambil saya mengunjungi orang tua saya yang tinggal disana, tidak ada salahnya saya juga mencoba peruntungan melalui kompetisi ini dengan mengangkat potensi di tanah kelahiran ayah saya tersebut.







