
Liputan – Foto Esai: Becak Sang Komandan
Januari 26, 2009Matahari pagi saat itu tidak menampakan sinarnya. Namun, hujan yang mengguyur Kota Bandung sedari shubuh tersebut tidak menyurutkan masyarakat untuk melakukan aktivitasnya.
Pukul 08.00, rutinitas di Pasar Jatayu yang berada di Jalan Komodor Udara Supadio (Biasa dikenal dengan jalan Jatayu), Kota Bandung ini berjalan seperti biasanya. Sekumpulan orang mengangkat mesin-mesin dan benda-benda logam, sebagian lainnya ada yang sibuk me-las, dan ada juga yang serius mengotak-ngatik mesin-mesin tua untuk bisa diperbaiki. Memang, pasar ini merupakan pasar yang khusus memperjual-belikan benda-benda logam, mesin, dan benda-benda lain untuk keperluan bengkel.
Ada sebuah kendaraan unik yang setiap harinya terparkir di pasar ini. Sebuah becak dengan tancapan bendera merah putih dan dengan dekorasi perang yang serba hijau. Becak Ini bukanlah becak hiasan. Becak ini digunakan untuk mengantarkan pesanan mesin dan logam dari toko-toko yang ada di sepanjang jalan jatayu kepada para pelanggannya.

Pak Rohim (72) bersama Becak Perangnya terus menjadi pusat perhatian. Itulah yang menjadi keunikan sang komandan.
Pemilik becak ini adalah Abdul Rohim (72), kakek asal Cirebon yang tinggal di sebuah asrama yang juga berada di jalan Jatayu. Tak kalah unik dengan becaknya, ia pun setiap harinya mengenakan pakaian serba hijau khas TNI, lengkap dengan sepatu, topi, asesoris tajam pada tangan, dan juga pelindung tubuh yang terlihat seperti baju anti peluru. Selagi menunggu antaran pesanan, kakek yang biasa dijuluki “Komandan” ini biasa duduk-duduk dan bercengkrama dengan para pegawai-pegawai toko.
Siang menjelang, basahnya jalan karena air hujan segera mengering dan waktunya Pak Komandan mengantarkan pesanan, sebuah besi pipih besar yang mirip seperti seng. Benda logam itu ia ikatkan pada sisi kanan becaknya. Dengan mengayuh becak perang-nya, sang komandan mengantarkan pesanannya ke sebuah bengkel yang berada di Jalan Garuda, +5 KM dari jalan jatayu.

Sang komandan mengantarkan pesanannya ke sebuah bengkel. Jasanya ini dihargai sebesar Rp.15.000,- sekali mengantarkan pesanan
Jasa sang komandan dihargai sebesar Rp.15.000,- sekali mengantarkan pesanan, yang juga tergantung dengan jarak yang ia tempuh. Setelah mengantarkan pesanan tersebut, ia kembali lagi ke Pasar Jatayu. Namun, ia memutuskan untuk tidak mengambil arah putar baik. Ia memutuskan untuk jalan memutar melewati Jalan Rajawali dan kemudian melewati Pasar Ciroyom untuk menghindari kemacetan.
Menjadi pusat perhatian. Itulah yang menjadi keunikan sang komandan. Walaupun setiap hari ia bergaya seperti ini, tetap saja menjadi perhatian orang-orang di sepanjang jalan. Saat ditanya sejak kapan ia mengenakan segala sesuatu serba perang ini, dengan semangat dan suara yang menghentak ia mengatakan “Sejak jaman Bung Karno!!”

Wajahnya terlihat angkuh, tapi juga terlihat kelelahan. Ia terus mengayuh sepeda roda tiga-nya untuk kembali ke Pasar Jatayu Bandung.
Wajahnya terlihat angkuh, tapi juga terlihat kelelahan. Ia terus mengayuh sepeda roda tiga-nya untuk kembali ke Pasar Jatayu Bandung. Karena kelelahan, kemudian ia berhenti sejenak disebuah warung kecil di Jalan Rajawali – memesan sebuah minuman berwarna merah yang biasa disebut limun, dan juga menghisap sebatang rokok yang ia minta dari pengunjung lain di warung itu.

Ia berhenti sejenak disebuah warung kecil di Jalan Rajawali - memesan sebuah minuman berwarna merah yang biasa disebut limun, dan juga menghisap sebatang rokok yang ia minta dari pengunjung lain di warung itu.
Kakek 72 tahun ini mengaku hidup seorang diri di Kota Bandung. Keluarganya tinggal di Gunung Halu, sebuah desa yang juga terletak di Jawa Barat. Dengan nada suara dan wajah yang keberatan, sang kakek tidak ingin menceritakan alasan mengapa ia mengenakan peralatan serba perang ini. Ketika ditanya apa ia dulu ikut membela tanah air, ia mengatakan “tidak perlu saya ceritakan soal itu”.
Setelah beristirahat sejenak, kemudian ia bersiap melanjutkan perjalanan. “Meluncur lagi, Komandan!” seru seseorang yang ada di dalam warung. Sang komandan pun terus mengayuh becaknya. Sampai pada akhirnya ia berbelok melalui jalan Arjuna, ia kemudian turun dan mendorong becaknya.
Saat melewati Pasar Ciroyom, Tidak ada yang aneh dan heran melihatnya, karena sang komandan memang telah dikenal dikawasan ini. Saat melewati jejeran pedagang buah, terde-ngarlah teriakan salah satu pedagang-nya, “Merdeka!!!!!” teriaknya.

Tidak ada yang aneh dan heran melihat sang komandan dengan becaknya. Memang ia telah dikenal dikawasan ini.
Sang komandan terus mendorong becaknya. Jalan yang menanjak memang menjadi hambatan bagi ia untuk mengayuh becaknya. Tapi, jarak yang ia tempuh hari ini tidaklah seberapa. Karena tidak jarang ia juga mengantarkan pesanan sampai ke Kota Cimahi, Jawa Barat.
Jarak yang harus ia tempuh untuk kembali ke pasar jatayu saat itu memang lebih lama, namun tidak menyurutkan ia untuk kembali. Kembali menunggu pesanan yang harus ia antar, untuk menyambung hidup di setiap harinya. (Lydia Okva Anjelia/Erlangga Reza)

Saya suka blog ini. Cerita sederhana tentang kehidupan sekitar yang ditulis dengan bahasa yang menarik
Terima kasih maz Elcharis… tulisan ini salah satu tugas kuliah saya di kampus… moga2 nanti saya bisa lebih produktif untuk menulis lagi..
wah- muaantap, satu bahasa yang kadang melenakan, Tapi jujur tulisannya asik runut dan menjiwai sang Komandan, yang dibumbui, serpihan kecil tentang alam seperti Karya Ahmad Tohari,,, bisa jadi inspirasi buat cerpen atau novel tentang harga diri seorang anak bangsa?????
Thanks Bang Khod.. rasanya tidak sabar menelorkan karya-karya lain.. cuma masih belum ada waktu dan kesempatan aja.. mudah2an di tulisan-tulisan berikutnya akan lebih baik lagi..