Pangkalpinang, 15 Oktober 2007
Hari ini aku menyebrang pulau lagi. Dari pulau Belitung ke Pulau Bangka dengan menggunakan kapal cepat Ekspress Bahari 9B. Ini kedua kalinya aku naik kapal ini setelah beberapa hari yang lalu, aku menuju Belitung untuk bersilaturahmi lebaran ke rumah Nenek.
Para penumpang ketika itu telah mengantri menuju pintu masuk kapal. Mama yang berjalan didepan memberikan tiket kami kepada petugas di depan pintu masuk.
“Makasih, Pak,” Kataku pada bapak tua yang beruban itu.
“Nuhun, bukan Terima kasih,” katanya dengan bahasa Sunda.
“Eh iya Nuhun, pak,” Jawabku lagi yang baru sadar kalau bapak tua itu pernah mengenalku. Memang ternyata ketika ke Bandung, ia pernah berkunjung ke rumah untuk bersilaturahmi.
Kami kemudian melangkah maju menuju pintu masuk kapal. Disana telah berdiri seorang petugas yang memberi tahu arah penumpang sesuai tiketnya.
“Hai Om Ijal,” sapaku. Pria tampan itu tersenyum. Aku memang mengenal hampir semua awak dalam kapal ini. Setelah perjalanan sebelumnya, aku diizinkan untuk menikmati indahnya laut dari ruang nahkoda kapal.
“Mana tiketnya, bu?,” tanyanya pada Mama. Dia kemudian melihat tiket bernomor kursi10-12 A dan mengarahkan kami untuk terus berjalan ke arah kanan kapal.
“Dimana ini duduknya?,” tanya mamaku menanyakan dimana kursi tempat kami duduk.
“Terus aja bu. nanti disana ada orang yang ngasih tau,” jawab Om Ijal kemudian.
Kami terus berjalan sambil melihat-lihat nomor kursi tiket dan nomor tempat duduk. Disana aku melihat seorang pria berseragam biru ketat dengan jaket hitam kecokelatan membantu para penumpang mendapatkan kursinya.
Aku berjalan semakin dekat ke arah-nya dan saat dia melihat,
“hai, bang!,” sapaku. Aku pun telah mengenalnya pada perjalanan sebelumnya. Dia seorang pria muda yang keren! haha
Dia tersenyum seperti halnya tadi aku menyapa Om Ijal di depan pintu masuk.
Aku pikir, apakah petugas disini hanya boleh tersenyum ya jika disapa orang? Padahal aku mengharapkan sapaan balik dari mereka.
“Oh, 10-12 A di depan bu,” kata Pria berseragam biru itu. Aku masih tersenyum melihatnya, sambil lewat disampingkudia pun terus tersenyum.
Kami akhirnya mendapatkan kursi kami. Aku, Mama, dan papa. Sambil menunggu penumpang lain menempati tempatnya masing-masing, kami duduk di kursi menunggu kapalnya mulai berjalan.
Ada yang menjadi perhatianku saat itu. Pria berseragam biru dengan rambut ber-gel masih mondar-mandir di sekitar kapal. Membantu penumpang yang baru masuk.
Setelah kapal berjalan, mama sepertinya mulai mual-mual karena goncangan kapal yang cukup kuat. Kemudian aku mengajaknya untuk naik ke atas kapal. Mungkin disana mual mama akan sedikit menghilang. Papa pun sejak kapal jalan, sudah nangkring dideck atas kapal. Sambil menikmati setiap batang rokok yang dihisapnya.
Kami berjalan menyusuri kapal. Lagi-lagi aku berpapasan dengan pria itu. Dia sedang menarik kardus besar berisi kotak-kotak snack untuk dibagikan pada penumpang.
Sambil menarik kardus, dia melihat kearahku dengan tersenyum.
“Sisain tiga ya, bang!,” kataku.
“Beres,” katanya.
Aku terus berjalan naik ke lantai atas mengantar mama yang sedang mabok laut. Ternyata saat itu kapal penuh (memang masih libur lebaran). Pada akhirnya tidak ada lagi tempat duduk untuk mama.
Mama merasa agak enakan ketika berdiri di tangga kapal. Akhirnya dia memutuskan untuk ikut penumpang lain yang tidak kebagian tempat duduk untuk bersama-sama duduk di tangga. Mama menyuruhku untuk kembali ke kursi untuk menjaga barang-barang. Dengan senang hati aku turun menuju kursi tempat kami seharusnya duduk.
Dia, masih menarik kardus besar berisi kotak-kotak snack. Sepertinya yang ini kardus baru. Isi kotak-kotak dalam kardus sebelumnya telah habis dia bagikan.
Dengan membungkukkan badan sambil menarik kardus, dia melihatku lagi dengan tersenyum. Kardus besarnya benar-benar menutupi jalanku.
“Lewat lah,” katanya dengan logat Belitung yang khas. Pikirku bagaimana aku bisa lewat dengan kardus sebesar itu yang menghalangi gang sempit itu.
“Mau dibatuin, bang?” kataku menawarkan bantuan.
“Usah lah.. Lewat ajak,” katanya dengan khas, sambil memberiku sedikit jalan.
Sambil duduk, tiba-tiba aku senyum-senyum sendiri. Dalam hati aku berkata, “dia seorang ABK, tapii gantengnya luar biasa,”. Menurutku dia lebih pantas jadi vokalis band ketimbang jadi ABK kapal. Kata-kataku berikutnya ini akan sedikit menjijikan, kalau aku bilang, senyuman dan tatapannya berhasil membuat aku tersepona. eh terpesona. haha
Sesaat kemudian, dia muncul di sebelahku. Masih menarik kardus besarnya.
“3,” kataku.
“Nih.. 4 ajak,” jawabnya.
“Nggak deh, 3 aja!,” aku menolak karena aku rasa akan ribet membawanya jika belum sempat dimakan. Kemudian dia pergi setelah selesai membagikan snack pada setiap penumpang.
Setelah lama kapal berjalan dan aku merasa bosan sendirian di tempat duduk, aku menuju tangga tempat mama duduk. Mama lebih memilih duduk di tanggauntuk mengatasi rasa mualnya.
Hei, lagi-lagi aku berpapasan dengan pria berseragam biru saat aku berjalan di ruang penumpang. Senyumannya lagi-lagi meluluhkan hati! haha
“Apa ya yang dilakukannya di ruangan penumpang?.” tanyaku dalam hati. Sambil berjalan aku menoleh ke belakang sambil melihatnya. Dia berjalan sampai di jejeran kursi kosong yang aku tinggal. Saat itu aku bertanya-tanya apa yang sedang dia lakukan.
“Mungkin memantau,” pikirku. “Memantau… aku.. hahaha,” pikirku sambil GR.
Aku kemudian menemani mama di tangga kapal. Sesaat aku sampai, dia pun datang melewati kami. “Mungkin telah selesai memantau,” pikirku lagi. Dia masuk ke ruangan VIP berkumpul bersama kru kapal lainnya.
Di akhir-akhir perjalanan, (waktu tempuh Bangka-Belitung sekitar 4 jam) dia menghampiri kami (aku dan mama). Sebentar kami mengobrol. Mama rupanya tertarik juga sama pria muda ini. Banyak yang mama tanyakan. Malah mama yang banyak ngobrol dengan pria ini. Aku hanya bisa senyam-senyum sambil memandangnya.
Di akhir perjalanan, senangnya hati ini. Baru saja aku bertemu ABK ganteng yang punya senyum manis, rapih, keren dan berhasil membuatku terpesona.
Seandainya kejadian ini sebuah sinetron, akan kuberi judul film ini dengan sebutan, “Bahari I’m in Love” . Atau kalau aku seorang Olive, tentu dia akan jadi Popeye the Sailor Man“.
Penumpang, satu persatu mengantri keluar kapal. Ada beberapa pintu yang tersedia dan aku tidak berhenti untuk terus tersenyum.
Setelah menginjakkan kaki ke daratan, tiba-tiba aku tersadar, “Damn!,” sesalku. “Ada yang ketinggalan!,”
Ada barang yang ketinggalan!,” terus terusan aku katakan dalam hati,
“Nama dan nomor HP-nya!!”


Komentar Terakhir