Film Dokumenter: Sepintu Pemali, Sedulang Timah
Harmonisnya Pembauran Etnis di Pemali
edisi: 01/Apr/2009 wib
Hidup Harmonis dalam perbedaan bukanlah sesuatu yang mustahil.. Warga keturunan China dan Melayu di Kecamatan Pemali, Bangka membuktikannya…
BEGITULAH sepenggal sinopsis dari film dokumenter ‘Sepintu Pemali, Sedulang Timah’ karya mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta yang ditayangkan, Minggu (29/3) di Gedung Panti Wangka, Pangkalpinang.
Film dokumenter berdurasi 26 menit ini berkisah tentang harmonisnya pembauran warga keturunan China dan Melayu di Kecamatan Pemali.
“Pemali adalah laboratorium multikultur di mana warga keturunan China sebagai penduduk pribumi dapat membaur dengan warga pendatang dari etnis Melayu karena suatu tujuan yang sama yaitu timah.Semua bekerja bersama-sama sebagai penambang timah inkonvensional,” kata tim produksi, Dewi Ratih Widyaningtyas.

Diskusi saat penayangan film "Sepintu Pemali, Sedulang Timah" karya mahasiswa UGM Yogyakarta, Minggu (29/3) di Panti Wangka, Pangkalpinang.
Ratih menambahkan, lahirnya karya ini diawali keikutsertaan mahasiswa UGM Yogyakarta dalam program KKN di Pemali, Bangka. Berbekal dari pengalaman selama tiga bulan di tahun 2008, mereka kembali ke Bangka untuk mengangkat keberagaman etnis di pulau Bangka dalam sebuah film dokumenter.
“Kami pulang ke Jawa membawa suatu hal yang positif dari Bangka, dan ketika kami mempunyai kesempatan untuk membuat sebuah film tentang keberagaman, kami datang lagi ke pulau ini dan mengangkatnya dalam sebuah film” ungkap Ratih.
Setelah tayangan berlangsung, berbagai komentar, kritik, maupun pujian dilontarkan oleh berbagai macam kalangan. Dosen, staf, maupun mahasiswa dari Universitas Bangka Belitung (UBB) memberikan apresiasi kepada kreativitas mereka.
“Menurut saya komentar dan kritik yang diberikan sangat konstruktif. Ini bisa menjadi evaluasi bagi kami, ke depan membuat film lebih baik lagi,” ujar Ratih.
Belum Jelas
Budayawan Bangka, Suhaimi Sulaiman kepada Bangka Pos Group menyatakan, film dokumenter karya mahasiswa UGM yang ditayangkan tersebut belum bisa menggambarkan dengan jelas mengenai keberagaman etnis di Bangka. “Memang belum tergambar jelas tentang pembauran budaya. Namun tentunya saya juga memberikan apresiasi yang baik bagi kreativitas mereka,” kata Suhaimi.
Terkait keberagaman yang ada di Bangka Belitung, Suhaimi menambahkan bahwa keberagaman kehidupan sosial dan budaya di Bangka Belitung sangat baik. “Tidak ada benturan kebudayaan dan sosial budaya. Benturan politik pun boleh dikatakan tidak ada,” kata Suhaimi.
Suhaimi juga berharap agar masyarakat Bangka Belitung memiliki kreativitas untuk menggambarkan kehidupan budaya yang ada di Bangka. (mg1)


Komentar Terakhir