Harian Pagi Bangka Pos berdiri pada tahun 1999, merupakan koran lokal pertama di Provinsi Bangka dan Belitung. Bangka Pos tanggal 25 Mei 1999 dan Pos Belitung 25 Mei 2001 tampil pertama kali dengan motto Yo Kite Punye Provinsi! (Ayo kita punya Provinsi!), Harian ini ikut menjadi saksi dan penggerak sejarah terbentuknya Provinsi ke-33 di Republik Indonesia yang telah diidamkan seluruh masyarakat Bangka Belitung. Setelah provinsi terwujud, koran ini bersemboyan Yo Kite Bangun Provinsi! (Ayo Kita Bangun Provinsi).
Di tahun-tahun berikutnya harapan dan semangat terus di suarakan Bangka Pos dan Pos Belitung dalam slogan-slogannya seperti Korannya Masyarakat Bangka Belitung, Bersyukur Membawa Perubahan, Yo Berdemokrasi Tanpa Anarki, Sewindu Menembus Kalbu, dan Sprit Baru Negeri Serumpun Sebalai.

Agus Ismunarno (Pemetik Gitar dalam rubrik “Getar” Edisi Minggu 3 Mei 2009) mengungkapkan bahwa tahun 2009 merupakan tahun dimana selama satu dasa warsa Harian Bangka Pos dan sewindu Pos Belitung berjuang menjadi pemetik gitar dan pembuat peta dengan menyajikan jurnalisme komprehensif dan proporsionalitas sehingga mampu memberi informasi peta kehidupan bagi khalayak pembacanya.
Sejarah Harian Pagi Bangka Pos
Bagaimana dengan sejarah harian ini, dalam tulisannya yang berjudul “Bersyukur Membawa Perubahan”, Agus Ismunarno (2004) menuliskan secara singkat perjalanan Bangka Pos sejak awal berdiri sampai akhirnya menginjak umur 5 tahun. Bahwa Harian Pagi Bangka Pos lahir dari ‘rahim’ kerinduan masyarakat Pangkalpinang, Bangka dan Belitung.
Didirikan oleh induknya PT.Indopersda Primamedia, harian ini yang bernaung hukum sebagai PT. Bangka Media Grafika dengan nomor SIUPP : 125.9/SK/MENPEN/SIUPP/1999 tanggal 11 Mei 1999. Bangka Pos terbit perdana dengan 9000 eksemplar dan pada tahun pertama penerbitannya sudah mencapai tiras tertinggi yaitu 23.000 eksemplar.
Edisi perdana Bangka Pos dihiasi dengan pemberitaan yang sangat monumental. Tampil foto Drs.Sofyan Rebuin, mantan Walikota Pangkalpinang dan beberapa aktivis muda seperti Johan Murod, Roviii AR, Muh Laihi yang mengkritisi rencana impor lumpur. Dengan kematangan dan kedewasaannya dalam tata negara serta pengelolaan kota, Pro Kontra Lumpur Singapur dibijaksanai dengan elegan oleh Sofyan Rebuin dan Ketua DPRD Drs HA Hudarni Rani SH.
Tampil pula pada edisi tersebut penggagalan penyelundupan 33 ton pasir timah oleh Polres Bangka yang dikomandani Syafei Aksal yang berpangkat Letkol. Sedangkan, berita kontrol sosial yang dimuat saat itu meliputi tidak berfungsinya lampu jalan di Pangkalpinang, 403 calon pelanggan PLN yang belum terpenuhi, dan perpustakaan Pangkalpinang yang kekurangan buku. Selain itu, Ny. Uyon penderita perut membesar saat siang dan mengecil saat pagi menjadi tulisan kemanusiaan pertama. Hotline perdana menampilkan semrawutnya lalu lintas Pangkalpinang.
Sofyan Rebuin dan Eko Maulana Ali menjadi pejabat pertama reformasi yang merestui dan menyambut baik terbitnya Bangka Pos. Sedang pengiklan perdana adalah Bravo Springbed, ditambah dengan 66 pengiklan ucapan selamat atas terbitnya Bangka Pos. Itulah goresan jurnalistik perdana Bangka Pos yang sekaligus menorehkan sikap dasar koran ini yaitu memberikan layanan informasi, kontrol sosial, menebarkan edukasi, dan mendorong mobilisasi keunggulan bisnis daerah.
Bangka Pos juga mempunyai komitmen yang dipegang teguh yaitu Idealisme untuk menciptakan ‘Indonesia Mini”. Koran ini melayani sebuah masyarakat plural dengan kemajemukan Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA). “Manakala Indonesia saat ini rentan terhadap perpecahan, Bangka Pos memberdayakan Indonesia Mini pada sumber daya manusianya, sehingga buah jurnalismenya mendorong terciptanya semangat solidaritas kebangsaan dalam esensi yang sebenarnya” (Herman Darmo, Direktur Utama PT.Indopersda Primamedia, saat peluncuran perdana Bangka Pos).
Semangat Herman Darmo, Sjamsul Kahar dan putra Bangka, Sentrijanto serta C. Budiarto yang menakhodai Persda dan merepresentasikan semangat Kelompok Kompas Gramedia itu ditampilkan dalam konfigurasi Keluarga Besar Bangka Pos yang berasal dari berbagai daerah, berbagai agama maupun berbagai etnis.
Bergabunglah ketika itu Agus Ismunarno (Persda, Bemas, Suara Timor Timur, Banjarmasin Post dan Serambi Indonesia), Priyo Suwano (Surya), Eddy Jajang Jaya Atmaja, Fahrurrozi (Sriwijaya Post), Imam M, Puji Handi, (Surya) di Redaksi, Gembong Herlawan (Percetakan Gramedia) di percetakan, dan Daryono (P2K). Transfer of technology kepada SDM Bangka Belitung menjadi cita-cita awal.
Mereka yang menerima sentuhan awal alih teknologi pers dan sekaligus turut membidani lahirnya Bangka Pos adalah Vovo Susatio, Albana, Herru Windharko, Dodi Hendriyanto, Raja Monang Silalahi, Anton Kibar, Ferdi Hermawan, Yuyun Yuhaimi di Redaksi, Winarno, Safri Azwar (Surya) bergabung bersama Nanang Suratmoko dan Hasto menangani tats wajah dibantu oleh Adrizon Zubir (Persda) di TI.
Sedangkan Aditya, M. Soleh, Sodikin dan Ade mengoperasikan mesin cetak Miller. Untuk mendukung idealisme pers bergabung di bisnis surya, (Surya), Poernomo (Sriwijaya, Pos) Rosa Dharmasari, Zulaika, Hui Ming, Suparman, Novri, Eko, Chayetanis dan Bani. Keluarga kecil itu kini mekar dan tumbuh menjadi Keluarga Besar dengan tuntutan agenda yang lebih besar lagi dari masyarakat. Seraya bersyukur, Bangka Pos konsisten membawa perubahan demi perubahan. (Sumber : Lustrum I Bangka Pos Group & Radio Sonora, 2004).


Komentar Terakhir